BAB
I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Ilmu biologi adalah
ilmu yang mempelajari makhluk hidup dan kehidupannya.Di dalam kehidupan,
salah satu pemanfaatan imu biologi bagi kesejahteraan manusia adalah
di bidang pertanian.
Melihat eratnya
hubungan manfaat pertanian dengan kehidupan manusia,Maka penulis
mengacu kepada buah-buahan yang biasanya di gemari oleh sebagian orang. Buah
yang banyak di gemari salah satunya adalah buah Semangka,selain rasanya yang
segar dan banyak mengandung air,semangka juga mempunyai banyak khasiat,salah
satunya yaitu dapat membersihkan dan menjaga kesehatan kulit. Namun umumnya
semangka yang ada di masyarakat atau di pasaran rasanya kurang manis, mudah
busuk, dan bentuknya pun kurang menarik (biasa).
Saat ini pembudidayaan
buah semangka masih sedikit di lakukan oleh para petani di Indonesia. Padahal
pada daerah-daerah maju,selain membudidayakan buah yang unggul,
semangka juga telah memiliki berbagai variasi rasa dan bentuk. Mereka telah
menerapkan budidaya buah semangka, sehingga semangka yang di hasilkan menjadi
lebih unggul,baik dari segi buahnya maupun dari segi penghasilan (ekonomi) yang
di dapatkan. Untuk itu penulis ingin mengetahui bagaimana pembudidayaan buah
semangka tersebut,dan bagaimana mendapatkan buah semangka yang unggul dan lebih
menarik. Sehingga dapat di harapkan kepada para petani Indonesia agar merapkan
cara budidaya buah semangka ini,demi kesejahteraan hidupnya dan juga bagi
manusia lainnya.
Tanaman
semangka dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai buah segar, tetapi ada yang
memanfaatkan daun dan buah semangka muda untuk bahan sayur-mayur. Biji semangka
bisa diolah menjadi makanan ringan yang disebut “kuwaci” (disukai masyarakat
sebagai makanan ringan). Kulit semangka juga dibuat asinan/acar seperti buah
mentimun atau jenis labu-labuan lainnya.
Semangka
merupakan tanaman buah berupa herba yang tumbuh merambat. Tanaman ini berasal
Afrika, kemudian berkembang dengan pesat ke berbagai negara baik di daerah
tropis maupun subtropis, seperti: Afrika Selatan, Cina, Jepang, dan Indonesia.
Tanaman semangka bersifat semusim, tergolong cepat berproduksi karena umurnya
hanya sampai 6 bulan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 TAKSONOMI
TANAMAN
Divisi :Spermatophyta
Subdiviso :Angiospermae
Kela :Dicotyledonae
Ordo :Cucurbitales
Famili :Cucurbitceae
Genus
:Critrullus
Spcies
:Critrullus vulgaris,Schard
2.2 MORFOLOGI TANAMAN
·
Akar
Akar tanaman semangka menyebar ke samping dan
dangkal.
·
Batang
Batang tanaman semangka
bersegi dan berbulu,Panjang batang antara 1,5 – 5,0 meter dan sulunya bercabang
menjalar di permukaan tanah.
·
Daun
Daun tanaman semangka
bercangap menyirip kecil – kecil, permukaannya berbulu, bentuk daun mirip
jantung di bagian pangkalnya, ujungnya meruncing, tepinya bergelombang dan
berwarna hijau tua.Letak daun bersebrangan satu sama
lainnya.
·
Bunga
Bunga tanaman semangka
di bagi menjadi 3 macam, yaitu bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna.
Bunga jantan tidak memiliki bakal buah, bentuknya seperti terompet. Bunga betina
mempunyai bakal buah berbentuk bulat, terletak di bawah mahkota bunga. Bunga
sempurna mempunyai bakal buah. Kepala dan benang sari yang dapat menghasilkan
buah.
2.3 SYARAT TUMBUH
·
Iklim
Tanaman semangka
merupakan salah satu tanaman hortikultura yang tahan kering. Curah hujan yang
ideal untuk areal penanaman semangka adalah 40-50 mm/bulan. Curah hujan yang
terlalu tinggi dapat berakibat buruk terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu mudah
terserang hama penyakit, bakal buah gugur dan pertumbuhan vegetatif panjang.
Semangka memerlukan sinar matahari penuh. Kekurangan sinar matahari menyebabkan
sulit berbunga dan bunganya banyak rontok, serta terjadi kemunduran waktu
panen. Suhu optimal yang dikehendaki tanaman berkisar 20–30oC. Kelembaban yang
terlalu tinggi akan mendorong tumbuhnya jamur perusak tanaman.
·
Tanah
Kondisi tanah yang
cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang cukup gembur, sedikit berpasir,
kaya bahan organik, bukan tanah asam. Keasaman tanah (pH) yang diperlukan
antara 6,5-7,2. Jika pH < 5,5 (tanah asam) maka perlu pengapuran dengan
dosis disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah tersebut. Jenis tanah yang
cocok untuk tanaman semangka adalah regosol, andosol, latosol dan podsolik.
·
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang
baik untuk areal penanaman semangka adalah: 0-400 m dpl. Pada ketinggian
400-900 m dpl, pertumbuhan tanaman kurang baik. Pada ketinggian lebih dari 700
m dpl, tanaman menghasilkan buah bermutu rendah dan rasa kurang manis.
2.4 PEMELIHARAAN TANAMAN
·
Penyulaman Tanaman
Semangka yang berumur
3-5 hari perlu diperhatikan. Apabila tanaman tumbuh terlalu lambat atau tanaman
mati dilakukan penyulaman dengan bibit baru yang telah disiapkan. Penyulaman
tidak boleh dilakukan lebih dari 10 hari setelah tanam. Pada kegiatan
penyulaman, perlu diperhatikan penyebab kematian bibit. Bila disebabkan oleh
bakteri atau jamur, bibit harus dibongkar bersama tanahnya, agar tidak menular
ke bibit lain yang sehat.
·
Penyiangan
Adanya gulma di
sekeliling tanaman dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan mengurangi
produksi. Gulma juga dapat dijadikan inang bagi hama dan penyakit. Penyiangan
dilakukan dengan mencabut atau membuang gulma yang tumbuh di bedengan atau
parit. Bila menggunakan sistem mulsa 9 plastik hitam perak (MPHP), penyiangan
hanya dilakukan di tepi-tepi parit karena praktis gulma tidak dapat tumbuh di
dalam bedengan. Penyiangan ini dilakukan rutin.
·
Pembumbunan
Pembubunan tanah dilakukan dengan menimbun kembali
tanah yang tererosi karena penyiraman, agar akar-akar tidak muncul ke permukaan
tanah. Pembumbunan hanya dilakukan untuk penanaman sistem tanpa mulsa.
·
Penyiraman Tanaman
Semangka memerlukan air secara terus menerus dan
tidak kekurangan air. Sistim irigasi yang digunakan sistem Farrow
Irrigation: air dialirkan melalui saluran diantara bedengan Frekuensi
pemberian air pada musim kemarau adalah 4-6 hari. Penyiraman juga bisa
dilakukan dengan pompa air, dengan bantuan selang plastik.
2.5 PEMUPUKAN
Pemupukan
|
Waktu
|
Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)
|
||
|
ZA
|
TSP
|
KCl
|
|
|
Susulan I (3 hari)
|
40
|
-
|
40
|
|
Susulan II Daun 4-6 helai
|
120
|
85
|
80
|
|
Susulan III Batang 45–55 cm
|
170
|
-
|
30
|
|
Susulan IV Tanaman bunga
|
130
|
-
|
30
|
|
Susulan V Buah masih pentil
|
80
|
-
|
30
|
|
POC NASA ( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu |
POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif
1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki |
||
2.6 Waktu
Penyemprotan HORMONIK
Semprotkan HORMONIK
sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup
HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21
- 70 hari, interval 7 hari sekali.
2.7 Pemangkasan
2.7 Pemangkasan
Pemangkasan tajuk tanaman bertujuan mengatur
pertumbuhan tajuk. Pemangkasan dilakukan dengan cara mengurangi tumbuhnya
cabang utama atau cabang sekunder sehingga hanya dipelihara sebanyak dua cabang
utama saja. Pemangkasan dapat dilakukan sejak tanaman masih berumur 7-10 hari
setelah 10 tanam. Biasanya pada umur ini tanaman baru memiliki 4-5 helai daun.
Hal ini dilakukan untuk mempercepat tumbuhnya cabang. Cabang-cabang yang tumbuh
dibiarkan sampai berumur 3 minggu. Pada usia 3 minggu, dipilih lagi dua cabang
utama yang pertumbuhannya baik. Pada umur 6 minggu, cabang sekunder dipangkas.
Cabang sekunder yang dipangkas adalah cabang sekunder di bawah ruas ke-14 dan
disisakan masing-masing hanya dua daun. Alat pangkas yang digunakan harus dalam
keadaan steril. Sebelum dan sesudah pemangkasan, alat direndam fungisida dengan
konsentrasi 2 ml.
·
Pengikatan Cabang
Pengikatan cabang mutlak dilakukan pada penanaman
sistem turus, agar tanaman dapat tumbuh merambat pada turus-turus yang telah
disediakan. Pengikatan dimulai ketika tanaman berumur 3 minggu. Bahan pengikat
dapat berupa tali rafia atau tali dari pelepah pisang batu. Model pengikatannya
menyerupai ‘angka 8’.
·
Penyerbukan Buatan
Penyerbukan buatan hanya dilakukan kalau semangka
yang ditanam sebagian besar merupakan jenis tidak berbiji. Penyerbukan buatan
dilakukan pada pagi hari yaitu pukul 06.00-10.00, saat bunga betina dalam
kondisi mekar. Umur tanaman yang dapat dilakukan penyerbukan buatan sekitar
21-28 hari setelah tanam. Untuk penanaman sistem turus, penyerbukan hanya
dilakukan pada bunga betina yang berada pada ruas ke-13 dan ke 20, hal ini
disebabkan bunga pada ruas-ruas tersebut yang kelak menjadi buah dapat pas
dengan para-paranya. Sedangkan penanaman tanpa turus tidak ada ketentuan
tersebut. Cara penyerbukan buatan ini diawali dengan pengambilan dan
pengumpulan bunga jantan dari semangka berbiji. Selanjutnya, dipilih bunga
betina yangakan diserbuki, yaitu bentuknya sempurna dan tidak cacat. Setelah
dipilih, oleskan bunga jantan pada putik bunga betina. Bunga yang sudah
diserbuki ditandai dengan tali rafia yang diikat longgar.
2.8 Seleksi
buah
Seleksi buah bertujuan untuk memperoleh ukuran dan
bentuk buah yang seragam dan besar. Seleksi buah dilakukan setelah tanaman
berumur 40 HST. Buah yang dipilih adalah buahyang pertumbuhannya baik,
sedangkan yang jelek dibuang dengan menggunakan gunting. Banyaknya buah yang
dipelihara masksimal 2 buah per tanaman agar didapat buah yang besar.
·
Penempatan Buah
Untuk penanaman sistem turus, buah diletakkan pada
para-para. Penempatan buah dilakukan setelah buah sudah berukuran bola tenis,
kira-kira 10-14 hari setelah penyerbukan. 4.4.10. Pemberian alas dan pembalikan
buah Dalam proses pembesaran, diantara buah dan para-para perlu diberi serasah
dari jerami atau alang-alang. Tujuannya agar nantinya kulit buah tetap mulus
hingga saat panen. Selain pemberian alas, buah perlu dibalik agar bagian
bawahnya terkena sinar matahari. Pembalikan buah dilakukan minimal sekali
hingga buah siap panen, yaitu pada umur 44-51 HST.
2.9 Pengendalian
Hama/Penyakit
Penyemprotan campuran obat (fungisida, insektisida
dan pupuk daun) dilakukan rutin setiap minggu, untuk tindakan pencegahan. Jika
terdapat serangan hama atau penyakit, maka waktu penyemprotan ditingkatkan
menjadi 3 hari sekali dengan bahan yang sesuai dengan hama atau penyakit
tersebut. Hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman semangka adalah:
Hama:
·
Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Penyebab: hama berukuran kecil ramping, warna kuning
pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Hama ini juga sebagai
vektor virus. Cara penularan, hama mengembara di malam hari, menetap dan
berkembang biak. Gejala serangan: daun-daun muda atau tunas-tunas baru menjadi
keriting. Tanaman keriting dan kerdil (yang kemungkinan disebabkan virus) serta
tidak dapat membentuk buah secara normal. Pengendalian: menyemprotkan larutan
insektisida sampai tanaman basah dan merata.
·
Ulat perusak daun (Spodoptera litura)
Ulat ini berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna
hijau bergaris kuning, tanda serangan daun dimakan sampai tinggal lapisan
lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan
secara non kimiawi dan kimiawi.
Tungau Tungau merah merah: Tetranychus
cinnabarinus Boisduval atau tunga kuning: Polyphagotarsonemus latus
Ciri-cirinya adalah binatang kecil berwarna merah
agak kekuningan/kehijauan mengisap cairan tanaman, membelah diri dengan
menggigit dan menyengat. Hama ini juga sebagai vektor virus. Gejala serangan:
tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna
dedaunan akan pucat. Pengendalian: dilakukan dengan menyemprotkan akarisida.
·
Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Hama ini mempunyai ciri
yaitu berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm,
aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama
tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian: (1)
penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus
hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian
secara kimiawi, dengan insektisida sesuai dengan aturan penanaman buah
semangka.
·
Kutu aphids (Aphids
gossypii Glover)
Aphids muda berwarna
kuning, sedangkan aphids dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman.
Kutu ini juga sebagai vektor virus. Gejala serangan adalah daun tanaman
menggulung dan pucuk tanaman menjadi keriting akibat cairan daunnya dihisap
hama. Ciri lainnya adalah adanya getah cairan yang mengandung madu dan
mengkilap dari kejauhan. Pengendaliannya adalah dengan menyemprotkan
insektisida secara rutin. Tanaman yang telah terserang virus, dicabut dan
dibakar.
Penyakit:
·
Layu Fusarium
Penyebab: Fusarium
oxysporum. Gejala: tanaman tampak layu seperti kekurangan air. Pada pagi dan
sore hari tanaman tampak segar. Bila tidak ditanggulangi, dalam waktu 2-3 hari
saja tanaman akan mati kering, berwarna coklat dan batangnya mengerut.
Pengendalian: (1) secara non kimiawi dengan pergiliran masa tanam dan menjaga
kondisi lingkungan agar tidak terlalu lembab, menanam pada areal baru yang
belum pernah ditanami semangka; (2) secara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan
fungisida secara periodik, menanam benih yang sudah direndam fungisida.
·
Bercak daun
Penyebab:
spora Pseudoperenospora cubensis Rostowzew terbawa angin dari tanaman
lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan
selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat
rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: (1) secara non kimiawi
seperti pada penyakit layu fusarium; (2) tanaman disemprot dengan fungisida.
·
Antraknosa
Penyebab: Colletotrichum
lagenarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah
warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan
berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: (1)
dilakukan secara non kimia seperti pengendalian penyakit layufusarium; (2)
menggunakan fungisida.
·
Busuk semai
Penyebab:
cendawan Pythium ultimum Trow. Menyerang pada benih yang sedang
disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, rebah kemudian mati.
Pengendalian: benih direndam di dalam fungisida, penyemprotan fungisida secara
periodik.
Busuk buah
Penyebab: Phytophthora capsici Leonian. Jamur menginfeksi buah
menjelang masak dan aktif setelah buah dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah
terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan,
pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari ketika tidak berawan/hujan.
Tanaman dan buah disemprot fungisida secara periodik.
Virus
Penyebab: virus yang
terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun
melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul
rekahan membujur pada batang. Pengendalian: serangan vektor virus dicegah
dengan menggunakan insektisida. Belum ditemukan obat yang tepat untuk
mengendalikan virus, sehingga tanaman yang terlanjur terkena harus dicabut dan
dibakar.
Panen
dan Pasca Panen
Ciri dan Umur Panen
Menentukan saat panen
dapat melaui tiga cara yaitu pengamatn visual, pengamatan dari suara saat buah
diketuk, dan umur tanaman. Secara visual, buah semangka yang sudah siap panen
dicirikan oleh warna kulit buah yang terang, bentuk buah bulat berisi, dan
sulur di belakang tangkai buah sudah berubah warna menjadi coklat tua. Warna
buah menjadi terang karena lapisan lilin yang menyelimuti kulit buah sudah
hilang. Suara buah dapat digunakan sebagai tanda tingkat ketuaan buah. Suara
buah ini muncul setelah buah diketuk. Bila nyaring, buah tersebut masih muda.
Sebaliknya, bila agak berat dan sedikit bergetar, buah tersebut sudah masak
atau tua. Varietas tanaman dan ketinggian tempat mempengaruhi umur panen
tanaman. Pada ketinggian tempat antara 700-900 m dpl, semangka dapat dipanen
pada umur 90-100 hari setelah tanam. Sementara di dataran rendah buah dapat
dipanen pada umur 85 hari
·
Cara Panen
Cara panen buah semangka adalah dengan memotong
tangaki buah. Setelah dipotong, buah dapat diangkat dan diletakkan langsung ke
dalam keranjang. Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah dan
tidak berawan sehingga permukaan kulit buah dalam kondisi kering, agar tahan
selama dalam penyimpananan.
·
Pengumpulan
Pengumpulan hasil panen sampai siap dipasarkan,
harus diusahakan sebaik mungkin agar tidak terjadi kerusakan buah. Kerusakan
saat pengumpulan buah akan mempengaruhi mutu buah dan harga jualnya. Dalam
penampungan buah, hendaknya tidak terjadi persinggungan langsung antar buah.
Untuk itu, perlu diberi serasah jerami padi atau kertas yang dipotong
kecil-kecil pada ruang antar buah.
·
Sortasi
Penggolongan ini biasanya tergantung pada pemantauan
dan permintaan pasaran. Penyortiran dan penggolongan buah semangka dilakukan
dalam beberapa klas antara lain: Kelas A: berat > 4 kg, kondisi fisik
sempurna, tidak terlalu masak; Kelas B: berat 2-4 kg, kondisi fisik sempurna,
tidak terlalu masak; Kelas C: berat < 2 kg, kondisi fisik sempurna, tidak
terlalu masak.
·
Pengemasan
Untuk mempertahankan mutu buah agar kondisi selalu
baik sampai pada tujuan akhir, dilakukan pengemasan dengan proses pengepakan
yang benar dan hati-hati. Kemasan dapat berupa kardus yang dilubangi, peti kayu
atau keranjang plastik. Setiap kemasan dapat diisi maksimum hanya enam buah.
Untuk memperkecil gesekan pada kulit buah, bagian dasar, ruang antar buah, tepi
kiri-kanan dan atas kemasan diberi jerami kering atau potongan kertas.
·
Distribusi
Buah semangka di Indonesia didistribusikan untuk
kebutuhan konsumsi dalam negeri dan ekspor, sehingga distribusinya menggunakan
angkutan darat, laut dan udara. Yang paling penting diperhatikan adalah
pengepakan yang sempurna dan perhitungan lama di perjalanan. Berdasarkan grade
mutu buah, maka mutu A dengan ukuran besar diperuntukkan bagi ekspor, hotel dan
supermarket dalam negeri sedangkan mutu B dan C dengan ukuran kecil untuk pasar
tradisional.
Kandungan Gizi Pada Semangka
|
Nilai nutrisi per 100 g (3,5
oz)
|
|
|
Energi
|
127 KJ (30 kcal)
|
|
Karbohidrat
|
7.55 g
|
|
Gula
|
6.2 g
|
|
Serat pangan
|
0.4 g
|
|
Lemak
|
0.15 g
|
|
Protein
|
0.61 g
|
|
Air
|
91.45 g
|
|
Vitamin A equiv
|
28 µg (3 %)
|
|
Thiamine (vit.B1)
|
0.033 mg (3%)
|
|
Riboflavin (Vit.B2)
|
0.021 mg (1%)
|
|
Niacin (vit. B3)
|
0.178 mg (1%)
|
|
Pantothenic acid (B5)
|
0.221 mg (4%)
|
|
Vitamin B6
|
0.045 mg(3%)
|
|
Folate (vit.B9)
|
3 µg (1%)
|
|
Vitamin C
|
8.1 mg (14%)
|
|
Calcium
|
7 mg (1%)
|
|
Iron
|
0.24 mg (2%)
|
|
Magnesium
|
10 mg (3%)
|
|
Phosphorus
|
11 mg (2%)
|
|
Potassium
|
112 mg (2%)
|
|
Zinc
|
0.10 mg (1%)
|
Tabel 2 : kandungan gizi semangka
|
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat
untuk dewasa
Source : sumber data nutrisi USDA.
|
(Sumber: wikipedia Indonesia)
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimplan
Dari semua uraian isi makalah yang telah di susun, maka penulis
berkesimpulan sebagai berikut:
Pada hakikatnya, Pemanfaatan ilmu biologi di
bidang pertanian ini banyak cara atau program yang dapat di lakukan. Salah
satunya yaitu dimanfaatkan dalam pembudidayaan tanaman semangka,seperti yang di
susun oleh penulis dalam makalah ini.Pembudidayaan tanaman semangka pada
awalnya hanya di lakukan oleh nagara-nagara maju, namun lama-kelamaan sebagian
masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini juga telah menerapkan budidaya
ini.Pada umunya para petani yang menerapkan program budidaya ini telah
mendapatkan hasil yang sesui dengan yang di harapkan.
kira-kira keuntungan yang di dapatkan para petani adalah Rp 5.821.625,- per
hektar dalam 1 musim.(Buku Budidaya Usaha Pengolahan Agribisnis
Semangka).
Citrullus lanatus atau yang biasa di kenal sebagai
buah semangka ini merupakan tanaman yang merambat, yang berasal dari daerah
setengah gurun di Afrika bagian selatan. Namun sekarang perkembangan budidayanya
semakin cepat,bentuk semangka yang pada dasarnya bulat atau lonjong,sekarang di
negeri Jepang bentuk dari buah semangka dapat di buat sesuai dengan ke inginan
kita.Mulai dari bentuk kotak,
piramid,dll.(www.detikfood.com/semangka-si-manis-viagra-alami)
Dengan adanya perkembangan budidaya tanaman semangka
tersebut, maka tanaman semangka dapat bermanfaat lebih dalam kehidupan manusia, baik bagi penghasilan
perekonomian,kesehatan,bahkan juga bagi daya tarik buah semangka itu
sendiri,yaitu dengan adanya bentuk-bentuk semangka yang menarik.
3.2 Saran
·
Perlunya tanaman semangka pada waktu
penanaman bibitnya di pilih yang bagus – bagus saja.
·
Pembuatan bedengan tanaman semangka
perlunya lahan harus di bajak dulu agar sisa – sisa perakaran dan batu –
batu hilang atau tertimbun tanah agar tidak menghambat pembuatan bedengan.
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
·
Baga Kalie,M. 1992. Bertanam Semangka.
PS Penebar Swadaya, Jakarta.
·
BIP Padang. 1994. Bertanam Semangka
Taiwan. Departemen Pertanian, Padang
·
Rahman Rukmana dan Widodo. 1993.
Budidaya Semangka Non Biji Sistem Turus dan Para – para. Dalam: Sinar
Tani. 22 September 1993,No. 2291.
·
Rio Marcell. 1993.Cara budidaya
semangka. Dalam: Dephnews Indonesia (DNI). Minggu IV Oktober 1993, Tahun XXX,
NO. 1064, Jakarta.
·
http://estaadri.blogspot.sg/2012/05/makalah-mata-kuliah-biologi-umum.html
di akses pada tanggal 14 Mei 2014